Kalau ada yang bilang Gen-Z apatis terhadap politik, mungkin mereka hanya salah alamat. Bukan apatis, tapi kami—anak-anak lahir di antara WiFi gratis dan cicilan paylater—punya cara lain dalam mengekspresikan kepedulian. Kami mungkin malas ikut rapat RT atau duduk serius di pos ronda, tapi ketika korupsi mencuat atau kebijakan absurd diumumkan, trust me, dalam hitungan menit meme sudah jadi senjata.
Dari Meme Jadi Kritik Sosial
Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity menulis bahwa generasi kita hidup dalam ketidakpastian yang cair. Politik pun bagi Gen-Z bukan lagi soal kampanye panjang di lapangan, melainkan visual cepat—meme, video TikTok, atau thread Twitter. Ingat ketika Menteri bilang “kerupuk bisa jadi lauk sehat”? Dalam hitungan jam, meme “kerupuk bergizi seimbang” trending di Instagram. Itu bentuk kritik. Ringan, receh, tapi menggigit.
Di sinilah Gen-Z beroperasi. Bukan lewat demonstrasi dengan spanduk lusuh, tapi lewat trending topic dengan tagar #GlowUpPemilu atau #RakyatButuhDiskon. Jangan salah, satu tagar bisa mengguncang wacana politik lebih cepat daripada laporan 200 halaman yang penuh jargon.
Data Bicara: Apatis atau Adaptif?
Menurut survei Indikator Politik Indonesia (2024), tingkat partisipasi politik pemilih muda (17–30 tahun) mencapai 56%. Angka ini memang lebih rendah dari generasi tua, tapi jangan buru-buru menyebutnya apatis. Menurut KPU, Gen-Z justru mendominasi daftar pemilih tetap: hampir 52% suara pemilu 2024 datang dari Gen-Z dan milenial. Jadi kalaupun ada kesan “cuek”, faktanya suara kami justru jadi penentu hasil pemilu.
Bedanya, kami tidak percaya begitu saja pada baliho berukuran 10×20 meter dengan wajah senyum palsu. Kami lebih percaya pada satu exposé di YouTube, atau satu investigasi jurnalis independen yang dibagikan di grup WhatsApp keluarga.
Kasus Keseharian: Politik di Timeline
Bayangkan ini: kamu lagi scroll TikTok malam-malam, niatnya cuma mau lihat resep Indomie Carbonara. Eh, tiba-tiba muncul video seorang content creator bahas dana aspirasi anggota dewan. Dengan gaya bercanda, pakai backsound “Senyumin aja dulu”, video itu jadi lebih nyantol daripada kuliah Pancasila dua SKS.
Atau contoh sederhana: obrolan nongkrong di warkop. Dulu mungkin topiknya bola atau gebetan. Sekarang? Bisa jadi topik pajak hiburan 40% atau rencana subsidi motor listrik. Semua dibalut gaya santai: “Bro, kalau motor listrik subsidi 7 juta, berarti kita bisa beli dua boba gratis dong tiap bulan.”
Politik masuk ke ruang paling receh, dan di situlah ia jadi relevan.
Referensi Buku & Pikiran
Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century menekankan pentingnya literasi politik digital. Generasi muda, katanya, harus belajar memilah antara informasi dan manipulasi. Itu PR buat kami. Karena kalau tidak kritis, kami bisa gampang termakan hoaks yang dikemas lucu.
Tapi justru karena terbiasa hidup dengan banjir informasi, Gen-Z punya insting saring lebih kuat. Kami tahu mana akun Twitter yang cuma buzzer, dan mana yang benar-benar jurnalis. Kami bisa bedakan mana data resmi BPS, mana data abal-abal yang entah dari mana.
Mimpi Masa Depan: Politik yang Relevan
Bagi kami, politik ideal di masa depan bukan lagi sekadar pidato panjang, tapi keterhubungan nyata. Bayangkan kalau aplikasi KPU semudah aplikasi ojek online: jelas, transparan, ada tracking real-time. Bayangkan kalau rapat DPR bisa ditonton kayak live streaming e-sports, dengan scoreboard siapa yang tidur dan siapa yang benar-benar bicara.
Itu mungkin terdengar receh, tapi begitulah cara kami membayangkan politik yang lebih akuntabel. Transparansi harus semudah mengintip notifikasi Shopee.
Refleksi: Apatis atau Gelombang Perubahan?
Pertanyaannya sekarang, apakah Gen-Z benar-benar apatis? Atau justru sedang menyiapkan gelombang perubahan dengan gaya sendiri?
Kalau mengutip pepatah lama: “Banyak jalan menuju Roma.” Buat Gen-Z, banyak jalan menuju politik. Ada yang lewat meme, ada yang lewat TikTok, ada yang lewat diskusi panjang di Discord. Semua itu adalah bentuk partisipasi.
Jadi jangan salah baca. Gen-Z mungkin tidak turun ke jalan seintens era Reformasi, tapi jangan remehkan kekuatan screenshot, viral content, dan cancel culture. Karena di era digital, satu meme bisa lebih tajam daripada satu batu yang dilempar ke gedung parlemen.
Penutup
Politik di era kami adalah politik cair, penuh humor, tapi tetap serius. Kami sadar, masa depan Indonesia ada di tangan generasi yang bisa membuat perdebatan politik terasa seperti trending topic yang asik diikuti, bukan drama monoton di televisi.
Dan siapa tahu, dari meme dan satir receh itulah akan lahir sebuah gelombang perubahan besar. Sebab seperti kata Harari, sejarah bukan hanya ditulis oleh pemenang, tapi juga oleh generasi yang berani bermimpi.







Komentar Terbaru