Orang Indonesia paling jago kalau soal urusan bareng-bareng. Dari kecil kita sudah dilatih solidaritas: makan bareng, main bareng, utang bareng, bahkan nongkrong di warkop juga bareng. Pokoknya kalau sendirian rasanya nggak afdol.
Sayangnya, tradisi ini tidak berhenti di level rakyat biasa. Di meja-meja kekuasaan, “bareng-bareng” juga jadi gaya hidup. Bedanya, kalau kita patungan beli es teh, mereka patungan nguras APBD. Kalau kita iuran buat kado kawinan, mereka iuran bikin proyek fiktif.
Inilah versi elit dari solidaritas rakyat: korupsi bareng-bareng.
Rombongan Korupsi, Rombongan OTT
KPK sering pusing sendiri. Setiap kali operasi tangkap tangan, yang ketangkap hampir selalu rombongan. Jarang ada pejabat yang main solo. Entah kenapa, korupsi di negeri ini rasanya lebih mantap kalau dilakukan rame-rame.
Analoginya kayak arisan. Kalau arisan ibu-ibu dapat panci atau blender, arisan pejabat dapat vonis pengadilan. Bedanya, arisan ibu-ibu biasanya diakhiri dengan makan-makan. Arisan pejabat diakhiri dengan sidang tuntutan.
Kalau kita yang rakyat biasa, bareng-bareng itu artinya rame-rame pesen kopi, lalu bayar transfer satu-satu sambil sinyal ngadat. Kalau pejabat, bareng-bareng itu artinya bagi-bagi fee proyek. Kalau ketahuan? Ya bareng-bareng juga duduk di kursi pesakitan.
Alasan Demi “Kebersamaan”
Lucunya, setiap kali ditanya kenapa korupsi, jawabannya selalu mirip: demi kebutuhan, demi partai, demi menjaga hubungan. Intinya selalu ada embel-embel “demi kebersamaan”.
Kalau rakyat biasa, kebutuhan bareng-bareng ya menabung buat jalan-jalan. Kalau pejabat, kebutuhan bareng-bareng ya beli tanah, bangun vila, atau nambah koleksi mobil sport. Kalau kita gagal patungan buat beli tiket kereta, paling-paling batal liburan. Kalau mereka gagal patungan, proyek bisa mangkrak, rakyat bisa merana.
Jadi jangan heran, solidaritas ala pejabat itu levelnya jauh di atas kita. Kita cuma bisa geleng-geleng kepala sambil mikir: kok tega-teganya ya, demi kebersamaan versi mereka, rakyat ikut nombok.
Dari Rapat AC ke Rapat Tahanan
Fenomena ini menciptakan ironi lucu. Dulu rapat di ruang ber-AC, sekarang rapatnya di ruang tahanan. Bedanya cuma fasilitas: yang dulu ada proyektor, sekarang pakai papan tulis kecil.
Kadang-kadang kalau lihat foto pejabat yang tertangkap bareng, rasanya kayak liat reuni sekolah. Ada senyum tipis, ada tatapan kaku, ada juga gaya sok tegar. Padahal isi hati mungkin sama: nyesel, tapi bareng-bareng juga.
Lebih ironis lagi, satu sel penjara bisa jadi ajang “networking” baru. Yang dulunya sibuk bikin proyek bareng, sekarang sibuk bikin strategi pembelaan bareng. Kalau dulu hasil rapat berupa nota dinas, sekarang hasil rapat berupa draft pledoi.
Korupsi Sebagai Gotong Royong Terbalik
Di kampung, gotong royong itu artinya bareng-bareng membangun jalan, bareng-bareng memperbaiki masjid, atau bareng-bareng panen padi. Di kantor pejabat, gotong royong artinya bareng-bareng menyedot dana anggaran.
Lucunya, dua-duanya sama-sama pakai istilah “untuk kepentingan bersama”. Bedanya, kalau gotong royong di kampung, hasilnya nyata dan bisa dipakai warga. Kalau gotong royong pejabat, hasilnya cuma segelintir yang menikmati.
Kalau gotong royong kampung biasanya ditutup dengan makan nasi liwet rame-rame, gotong royong pejabat ditutup dengan bagi-bagi amplop.
Korupsi Sendiri Aja Challenge
Mungkin negara ini butuh program baru: “Korupsi Sendiri Aja Challenge.” Jadi kalau ada yang mau maling, biar dia tanggung sendiri, jangan ngajak-ngajak orang lain.
Biar jelas siapa dalangnya. Biar nggak ada istilah “saya terpaksa, demi partai, demi atasan.” Kalau memang rakus, ya rakus sendirian. Jangan dijadikan budaya kolektif.
Masalahnya, kayaknya ini mustahil. Korupsi bareng-bareng itu sudah jadi budaya. Dari pusat sampai daerah, dari proyek besar sampai pengadaan kecil. Saking normalnya, kalau ada pejabat korupsi sendirian, malah dianggap aneh: kok nggak ngajak-ngajak?
Rakyat: Penonton Setia
Sementara itu, rakyat cuma bisa jadi penonton. Nonton berita OTT di TV sudah kayak nonton sinetron. Ada episode baru tiap minggu, tokoh baru tiap bulan. Kadang plot twistnya lebih seru daripada drama prime time.
Bedanya, di sinetron kita bisa ganti channel kalau bosan. Di kehidupan nyata, rakyat nggak bisa ganti channel. Yang bisa cuma mengelus dada, ngedumel di media sosial, atau bikin meme.
Korupsi bareng-bareng bikin rakyat jadi korban bareng-bareng juga. Dari kualitas jalan yang hancur, sekolah yang roboh, sampai bansos yang nggak nyampe. Kalau kata pepatah: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Di sini versinya: anggaran sama-sama diembat, rakyat sama-sama dirugikan.
Solidaritas Salah Tempat
Indonesia dikenal dengan budaya kolektivitas dan solidaritas. Sayangnya, semangat itu ikut terbawa sampai ke meja korupsi. Jadilah fenomena: korupsi bareng-bareng.
Kalau solidaritas rakyat menghasilkan gotong royong, solidaritas pejabat menghasilkan vonis berjamaah. Kalau rakyat bisa bareng-bareng bikin jembatan bambu, pejabat bisa bareng-bareng bikin kasus Tipikor.
Dan selama budaya ini belum berubah, jangan kaget kalau setiap minggu kita bakal disuguhi berita baru. Korupsi memang kejahatan, tapi di Indonesia, korupsi juga bisa jadi kegiatan kolektif.
Bedanya dengan arisan jelas: kalau arisan ibu-ibu dapat panci, kalau arisan pejabat dapat kursi besi.







Komentar Terbaru