Bunyi

Demo DPR, Bunyi

Di negeri ini, politik selalu penuh dengan bunyi. Kata-kata yang berhamburan dari mimbar, janji-janji yang bergema dari pengeras suara kampanye, retorika yang mendesak masuk ke telinga rakyat. Politisi kita, terutama yang duduk di kursi DPR, gemar berbicara. Mereka pernah bicara panjang lebar soal rakyat, soal keadilan, soal masa depan. Mereka bicara dengan gairah, dengan wajah penuh keyakinan, meski kita tahu: terlalu sering bunyi itu kosong, seperti kaleng dipukul, nyaring tapi tak berisi.

Namun tiba-tiba, saat jalanan penuh amarah, ketika mahasiswa berteriak di depan pagar Senayan, ketika rumah pejabat dijarah, ketika rakyat kehilangan anaknya bernama Affan, bunyi itu hilang. Mereka mendadak diam. Orang-orang yang biasanya bersaing keras mencari sorotan kamera, kini memilih sepi.

Ada yang ganjil di sana. Bunyi yang berlebihan mendadak diganti dengan hening yang mencurigakan.

Sejarah telah berkali-kali menyingkap ironi ini. Di Prancis 1789, kaum bangsawan yang biasanya penuh gaya dalam pesta, bungkam ketika rakyat lapar mengamuk. Di Roma kuno, para senator yang gemar bersilat lidah memilih bungkam ketika Julius Caesar dibunuh di tangga Senat. Dan di Indonesia 1998, para menteri yang sehari sebelumnya masih memuji sang Presiden, tiba-tiba menghilang tanpa suara ketika Soeharto jatuh.

Bunyi itu mudah hadir ketika aman, tapi diam lebih mudah dipilih ketika bahaya.

Psikologi sosial menyebut fenomena ini sebagai spiral of silence. Ketika opini mayoritas terasa menekan, ketika arus massa bergelora, orang memilih diam. Mereka takut terseret, takut dicap musuh, takut jadi korban. Tetapi para politisi kita bukan sekadar rakyat biasa. Diam mereka bukan sekadar rasa takut personal. Diam mereka adalah strategi.

Machiavelli pernah menulis dalam The Prince: seorang penguasa kadang harus menjadi rubah, menunggu dalam hening, menyimpan kata hingga saat tepat. Diam bisa jadi siasat, bisa jadi cara bertahan. Tapi diam juga bisa jadi pengakuan: pengakuan bahwa kata-kata sudah kehilangan maknanya, pengakuan bahwa mereka tak lagi punya sesuatu yang bisa dipercaya.

Dulu mereka bicara tanpa henti,  
janji demi janji,  
slogan demi slogan.  

Kini mulut terkunci,  
bibir dibungkam lakban merah putih,  
balon kata pecah,  
tinggal sunyi.  

Rakyat bertanya,  
“Di mana bunyi kalian saat kami menunggu?”  
Jawabannya: diam.  

Heidegger pernah memandang diam sebagai ruang otentik. Dalam diam, katanya, ada keberanian menghadapi diri sendiri. Tetapi diam para politisi hari ini jauh dari otentik. Itu bukan diam yang lahir dari renungan, melainkan diam yang kikuk. Itu bukan diam yang menyimpan kebijaksanaan, melainkan diam yang menutupi kepanikan.

Baca juga  Buku "Cermin" - Bagian 1: Ego Sebagai Topeng

Nietzsche lebih tajam lagi: kata-kata bisa kehilangan daya, dan ketika itu terjadi, diam adalah sisa terakhir. Bunyi politisi sudah terlalu sering jadi kebohongan, maka kini mereka tak berani mengulangnya.

Demokrasi, sejatinya, hidup dari bunyi: dari debat, kritik, klarifikasi. Tapi ketika bunyi itu hilang, demokrasi pincang. Yang muncul justru bunyi lain: bunyi dari jalanan, dari orator mahasiswa, dari megafon buruh, dari unggahan media sosial, bahkan dari video palsu buatan algoritma.

Inilah risiko terbesar: ketika para politisi memilih diam, bunyi yang memimpin adalah bunyi kebohongan. Video deepfake yang menuduh seorang menteri menghina guru lebih dipercaya ketimbang klarifikasi resmi. Hoaks lebih nyaring ketimbang fakta. Sebab bunyi kebenaran tak pernah lahir dari mulut yang bungkam.

Mungkin mereka pikir diam itu aman. Tapi sejarah mengajarkan: diam pun bisa jadi penghinaan. Rakyat bisa memaafkan ucapan yang keliru, bisa menerima pengakuan salah, bisa menghargai kejujuran yang pahit. Tetapi rakyat tak bisa menerima diam yang penuh kepura-puraan.

Di depan gedung DPR, rakyat berteriak. Di Makassar, gedung dewan sudah hangus. Di Bintaro, rumah seorang menteri dijarah. Di jalanan, nama Affan bergema sebagai simbol. Dan di kursi empuk parlemen, para politisi kita memilih bungkam.

Mereka lupa: diam pun adalah bunyi. Bunyi yang aneh, bunyi yang getir. Bunyi yang menandakan ketakutan.

Seorang penyair menulis: bila kata-kata gagal, diam bisa jadi doa. Tetapi bila diam tak lahir dari hati, ia hanyalah ketakutan yang kerdil.

Hari ini, rakyat menunggu. Mereka menunggu bunyi yang jujur. Bukan bunyi kosong seperti dulu, bukan janji manis yang tak pernah ditepati. Mereka menunggu bunyi yang sederhana: pengakuan salah, komitmen perbaikan, keberanian menghadapi rakyat.

Baca juga  Demo DPR 2025: 3 Tewas, 950 Ditangkap, Presiden Batalkan Kunjungan

Jika bunyi itu tak juga hadir, maka diam yang dipilih para politisi akan tercatat sebagai kebohongan paling jelas. Sebab kebohongan tak hanya lahir dari mulut yang banyak bicara, tapi juga dari mulut yang memilih untuk tidak bicara sama sekali.

Dan sejarah akan tetap mengingat: di tengah ribuan bunyi rakyat, para politisi kita memilih diam.

Bagikan

Konten di Arah Pikiran dibuat melalui kolaborasi tim redaksi, teknologi AI, dan proses kurasi manusia agar tetap orisinal, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca.