Bambang Pacul Dicopot, PDIP Lagi Diet Rangkap Jabatan

Ilustrasi : Pintoe/AI

Kalau ada yang bilang politik itu arena intelektual, mungkin dia kurang sering nonton berita. Politik Indonesia itu lebih mirip warung pecel lele pinggir jalan: rame, berisik, semua rebutan pesen, tapi ujung-ujungnya yang kenyang tetap itu-itu aja.

Nah, salah satu menu spesial minggu ini datang dari dapur PDIP. Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul resmi dicopot dari jabatan Ketua DPD PDIP Jawa Tengah.

“Waduh, Pacul jatuh!” gitu kata orang-orang. Padahal ya enggak. Ini bukan jatuh, ini lebih kayak disuruh pindah meja. Kalau di pesta hajatan, Pacul awalnya duduk di meja lauk ayam goreng, terus panitia bilang: “Pak, pindah ya ke meja VIP, ada kambing guling di sana.” Jadi sebenarnya naik kelas.

Aturan Baru: Jangan Rangkap, Jangan Rakus

Cerita bermula pas Kongres VI PDIP di Bali. Megawati, dengan gaya khasnya, pasang aturan baru: kader yang sudah masuk kepengurusan pusat (DPP) gak boleh lagi rangkap jabatan di daerah (DPD).

Logikanya sederhana: kalau sudah jadi chef di dapur hotel, ngapain masih rebutan gorengan di warteg?

Tapi ya namanya aturan partai, selalu lahir kayak sinetron: dramanya lebih banyak daripada akal sehatnya. Dulu, rangkap jabatan dianggap sah-sah aja. Bahkan, makin banyak jabatan, makin gagah fotonya di baliho. Sekarang, tiba-tiba dipotong. Katanya biar kader fokus.

Fokus apaan? Wong selama ini partai paling jago multitasking: bisa senyum di baliho, marah di sidang, tapi tetep ingat setor duit ke kas partai.

Pacul Dicopot: Dari Kursi Jateng ke Kursi Pusat

Tanggal 15 Agustus 2025, keluar SK resmi. Pacul lengser dari kursi Ketua DPD Jateng. Tapi jangan sedih dulu. Dia dapat jabatan baru: Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Legislatif DPP PDIP 2025–2030.

Baca juga  Generasi Z dan Politik: Apatis atau Gelombang Perubahan?

Jadi ya ini bukan degradasi, tapi mutasi. Bukan diusir, tapi digeser. Kalau di kantor, istilahnya bukan “pecat”, tapi “dipindah ke ruangan ber-AC.”

Tapi publik keburu heboh. Banyak yang mengira Pacul “ditendang.” Padahal kenyataannya, ini cuma politik diet: biar gak terlalu gemuk jabatan.

FX Rudy Jadi Plt: Dari Solo ke Kursi Panas

Nah, kursi kosong di Jateng gak boleh lama-lama dibiarkan kosong. Partai langsung nunjuk FX Hadi Rudyatmo, mantan Wali Kota Solo, jadi Pelaksana Tugas Ketua DPD Jateng.

FX Rudy ini orang lama. Senior, sederhana, dan gak neko-neko. Kalau Pacul itu sambal terasi—pedes, nyegrak, bikin orang keringetan—maka Rudy itu tempe mendoan: tenang, lembut, bisa diterima semua kalangan.

Tapi ya jangan salah. Jadi Plt di Jateng itu gak enteng. PDIP Jawa Tengah ibarat kandang banteng terbesar, dapur utama. Kalau salah ngaduk kuah, bisa gosong semua.

Ironi Politik: Dulu Boleh, Sekarang Haram

Di sinilah sarkasme politik muncul. Rangkap jabatan dulu dianggap bukti loyalitas. Orang bisa pamer: “Saya ketua di pusat, saya juga ketua di daerah.” Kayak orang pamer koleksi sandal hotel.

Sekarang, tiba-tiba dianggap dosa. Katanya gak boleh, katanya melanggar AD/ART. Lah, AD/ART ini emang kitab suci apa? Bisa diubah kapan saja sesuai selera.

Ironinya, aturan baru ini lahir bukan karena kader sadar, tapi karena elite partai sudah mulai enek lihat kader yang terlalu sibuk tampil di dua panggung. Kayak orang nonton band indie yang sok-sokan main jazz. Lama-lama bosan juga.

PDIP Sedang Diet Politik

Kalau mau jujur, ini semua cuma soal diet politik. PDIP lagi belajar mengurangi “lemak” jabatan ganda. Katanya biar sehat, biar segar, biar kader bisa fokus.

Baca juga  Rakyat Puasa, DPR yang Pesta: Satir Demokrasi yang Asal Ngegas

Tapi, ya namanya diet, biasanya gagal di tengah jalan. Hari ini teriak anti rangkap, besok lusa bisa aja ada kader lain yang nekat makan dua piring. Bedanya, kalau ketahuan, bisa langsung dicopot. Kalau gak ketahuan? Ya aman.

Politik kita ini bukan soal benar atau salah, tapi soal ketahuan atau enggak.

Publik: Mau Ketawa, Mau Nangis

Publik yang nonton drama ini cuma bisa senyum kecut. Orang awam mikirnya, “Wah, PDIP tegas juga ya.” Tapi dalam hati sebenarnya mereka tau: semua ini cuma soal bagi-bagi kursi.

Jabatan di partai itu kayak kursi di warung kopi: siapa cepat dia dapat. Bedanya, di sini kursinya empuk dan gajinya bukan receh.

Mau disebut konsolidasi, mau dibilang disiplin, ujung-ujungnya tetap politik kursi.

Jadi kesimpulannya, pencopotan Bambang Pacul ini bukan tragedi. Bukan juga prestasi. Cuma rutinitas politik: ada yang naik, ada yang geser.

Kalau ada yang panik, rileks aja. Politik kita memang kayak warteg: selalu ada yang marah karena kehabisan lauk, tapi besok balik lagi makan di situ juga.

Moralnya sederhana: kalau di warteg aja gak boleh dobel lauk, apalagi di partai.

Bagikan

Konten di Arah Pikiran dibuat melalui kolaborasi tim redaksi, teknologi AI, dan proses kurasi manusia agar tetap orisinal, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca.