Di tengah deru demo, asap gas air mata, dan jeritan rakyat yang menuntut keadilan, ada sesuatu yang mulai terdengar samar—bunyi yang tak sekeras teriakan di jalanan, tapi punya makna yang lebih dalam. Bunyi dari angka-angka ekonomi, dari kebijakan diam para politisi, dari suara pasar yang bergetar—bahwa pertumbuhan yang gemilang bisa saja menjadi bayangan jika solidaritas dan kepercayaan rakyat hilang.
Kebijakan Ekonomi yang Mendadak Diam
Beberapa hari terakhir ini, Bank Indonesia (BI) membuat keputusan mengejutkan: memotong suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada 17 September 2025. Reuters+1 Ini adalah pemangkasan keenam sejak siklus pelonggaran dimulai September 2024, langkah yang dilakukan meskipun banyak ekonom tidak memperkirakan perubahan pada pertemuan itu. Reuters
Pengumuman ini seolah menjawab bisikan rakyat yang merasa biaya hidup terus menanjak, sementara gaji tetap di tempat. Namun, di balik langkah BI, ada pertanyaan yang kian hari kian menggema: apakah pemotongan ini disertai tindakan konkret agar kredit bisa mudah mengalir, agar daya beli rakyat tidak hanya retorika?
Tak lama setelah itu, pemerintah mengumumkan **paket stimulus ekonomi senilai sekitar Rp 16,23 triliun (± US$989 juta) yang akan diterapkan pada kuartal IV 2025 dan sedikit meluas ke 2026. Reuters+1 Bantuan pangan (beras untuk jutaan rumah tangga), pekerjaan padat karya, insentif pajak untuk sektor pariwisata kecil, perpanjangan penghasilan kecil, hingga magang berbayar bagi sebagian lulusan perguruan tinggi, semuanya dimunculkan sebagai jawaban terhadap pertumbuhan ekonomi yang mulai lesu. Reuters+1
Politikus: Banyak Bicara, Sekarang Diam
Dalam situasi sedemikian, rakyat berharap agar politisi yang selama ini mahir berbicara—di layar televisi, jalan kampanye, media sosial—segera berbicara juga tentang dampak nyata. Mereka ingin mendengar dari DPR: kapan subsidi terasa, kapan bantuan dibagikan, kapan perusahaan menaikkan upah, bukan hanya janji, bukan hanya headline media.
Tapi suara mereka tetap sunyi.
Mereka yang paling sering menjanjikan keadilan kini memilih diam. Mereka tak muncul dalam dialog publik dengan detail yang menjelaskan kenapa stimulus belum terasa, atau kenapa inflasi tetap tinggi. Mereka yang dulu antusias menuntut dukungan, melihat sekarang rakyat menuntut pembuktian. Tapi pembuktian itu belum datang.
Sejarah berulang dengan cara yang sunyi. Di masa Orde Baru, janji pembangunan melimpah, tapi rakyat sering merasa senyap ketika kelaparan dan pengangguran muncul. Di revolusi-revolusi lain di dunia, ketidakhadiran pemimpin di saat krisis adalah penyalahgunaan kekuasaan—karena publik butuh arah, bukan hening.
Filsafat Diam: Antara Keheningan dan Kepura-puraan
Filsafat mengajarkan bahwa diam bisa menjadi sangat berbicara. Locke, misalnya, melihat ekspresi bukan hanya dari kata, tapi dari tindakan. Heidegger menyebut diam sebagai ruang otentik, sebuah peluang untuk refleksi dan tetapkan makna. Tetapi diam juga bisa menjadi badai dalam tank, tekanan yang memekakkan.
Nietzsche pernah mengatakan bahwa orang berdiam bukan karena tak punya suara, tapi karena kata-katanya sudah kehilangan kepercayaan. Dan bukan tak mungkin inilah yang tengah terjadi di Indonesia: kata-kata politisi telah terlalu sering digunakan sebagai jaring janji yang lebar, menangkap harapan rakyat tapi membiarkan asa luntur di udara.
Puisi kecil berikut sebagai cermin:
Di rapat parlemen, kursi-kursi empuk berjarak, lampu terang menyinari meja-meja yang rapi.
Di luar, jalanan berdenyut, perut merasa kosong, dompet terasa tipis, harapan berat dipikul.
Politikus rupa panggung, suara terbentuk retorika;
Janji dikemas brosur, foto tersenyum di baliho.
Sekarang, di titik di mana rakyat menunggu cairnya subsidi, meredanya harga, terjawabnya tangisan, hanya dingin yang menyapa.
Mulut-mulut terbungkam. Diam bukan miracle, tetapi akumulasi janji yang habis waktunya.
Psikologi Kepercayaan: Mode Kerusakan
Psikologi sosial mengatakan bahwa kepercayaan publik adalah modal yang sangat rapuh. Sekali kecewa, kesannya melekat: “Mereka bicara terlalu banyak, tapi lihat hasilnya sedikit.” Publik mulai meragukan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi siapa yang berbicara.
Behavioural economics menunjukkan bahwa ketika harapan terhadap kebijakan tinggi, tapi realitas tidak sesuai, rakyat mengalami loss aversion. Kekecewaan kecil terasa besar. Inflasi sedikit di atas harapan menjadi skor hitam dalam keseharian. Stimulus pun bisa tampak seperti wacana jika distribusinya terlambat, kalau bantuan pangan hadir dengan birokrasi, kalau proyek padat karya hanya terlihat di berita.
Rasa keadilan pun mulai tergesek. Orang-orang memperhatikan dengan tajam: kenapa fasilitas parlemen mahal, tapi sekolah anak saya bocor? Kenapa mobil pejabat gagah, tapi harga bensin naik terus? Kenapa upah buruh tak bergerak, sementara tunjangan mereka yang di parlemen terus dijaga?
Penutup: Bunyi Baru yang Dinantikan
Politikus harus paham: sekarang bukan waktunya untuk bicara kosong. Suara rakyat bukan hanya ingin didengar, tetapi ingin dibuktikan. Stimulus harus sampai. Inflasi harus terkendali. Harga pangan dan transportasi harus masuk akal. Dan dukungan ke pemerintahan tak bisa hanya lewat headline media atau foto senyum di tribun.
Keheningan Anda lebay jika tidak diikuti aksi. Kata-kata Anda selesai semudah dibuka di pidato; tetapi diam Anda akan dikenang bila Anda tidak hadir di saat rakyat paling butuh. Kebisingan di jalan, tuntutan “17+8” yang viral, pengumuman paket stimulus dan penurunan suku bunga—semuanya adalah peluang. Peluang untuk kembali membangun kepercayaan.
Bila bunyi yang Anda pilih sekarang adalah diam, maka biarlah diam itu menjadi catatan sejarah. Bukan sebagai kebijaksanaan, bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai pengingat bahwa janji tanpa bukti adalah bau busuk yang tidak bisa ditutupi bau teh mahal pun.
🔗 Referensi Utama & Data
- Reuters: BI potong suku bunga acuan menjadi 4,75% pada 17 September 2025. Reuters+1
- Reuters: Stimulus ekonomi Rp 16,23 triliun untuk Q4-2025 ➜ bantuan pangan, kerja padat karya, insentif pajak. Reuters+1
- Reuters: Pemerintah meminta bank-bank negara menggunakan dana pemerintah untuk pemberian kredit, bukan membeli obligasi, dalam rangka mendukung sektor riil. Reuters







Komentar Terbaru