Ada yang masih inget beli cilok 3 biji 500 perak? Atau es mambo rasa pop ice yang kalau beku separo, kalau cair rasanya lebih mirip air comberan?
Dulu, duit receh segitu udah cukup bikin sore hari anak SD berasa kaya sultan.
Sekarang? 500 perak lebih sering nyasar ke bawah kasur atau jadi pengganjal meja warung. Buat jajan? Jangan harap. Minimal 5 ribu kalau mau dapat gorengan panas atau es teh plastik.
Nah, fenomena ini sebenarnya bukan sekadar nostalgia. Ini adalah wajah sederhana dari inflasi yang sering dibahas ekonom dengan muka serius di TV.
Inflasi, Versi Warung Sekolah
Kalau Bank Indonesia bilang inflasi itu “kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus”, maka anak SD akan menerjemahkan:
👉 “Dulu 500 perak bisa bikin kenyang, sekarang 5 ribu cuma bikin kenyang sebentar.”
Contoh gampang:
- Tahun 2005: Rp500 → es lilin atau ciki dua bungkus kecil
- Tahun 2015: Rp2.000 → cilok 5 tusuk
- Tahun 2025: Rp5.000 → cilok 3 tusuk + sambel encer
Bukan lidahnya yang makin mahal, tapi uangnya yang makin nggak berdaya.
Kenapa Harga Jajanan Naik?
Sama kayak harga bakso dan cabe rawit, jajanan SD juga tunduk pada hukum ekonomi.
- Harga tepung naik → cilok ikut naik
- Gas melon langka → gorengan jadi mahal
- Minyak goreng heboh di berita → anak SD ikut kena inflasi
Jadi jangan salahkan abang-abang cilok. Mereka bukan tiba-tiba jadi kapitalis. Mereka juga korban inflasi, sama kayak kita.
Nostalgia = Indikator Ekonomi
Lucunya, kita sering menyadari inflasi bukan dari laporan BPS, tapi dari harga jajanan masa kecil.
Kalau dulu Rp1.000 bisa bikin plastik ciki penuh angin, sekarang Rp1.000 bahkan ditolak abang parkir.
Kalau kata orang tua:
- “Dulu seribu bisa beli nasi uduk + teh manis, sekarang cuma dapat senyuman abang warteg.”
Inflasi Itu Wajar, Tapi Dompet Jadi Tipis
Inflasi sebenarnya tanda ekonomi jalan. Yang bahaya itu hiperinflasi, di mana harga naik gila-gilaan, kayak mie instan bisa setara harga pulsa.
Tapi meski wajar, inflasi tetap bikin generasi sekarang susah percaya kalau dulu 500 perak bisa jajan puas.
Dari 500 Perak ke 5 Ribu
Naiknya harga jajanan SD adalah cermin paling receh dari inflasi. Dari dulu yang cuma 500 perak, sekarang minimal 5 ribu.
Nostalgia ini sekaligus jadi pelajaran: nilai uang itu berubah, rasa jajanan tetap sama—cuma kantong kita yang makin megap-megap.
Siap-siap aja, 20 tahun lagi anak SD beli ciki bisa bayar pakai QRIS Paylater 0%.







Komentar Terbaru